Akhir
masa kanak-kanak (anak-anak SD) yang berlangsung dari enam tahun sampai anak
mencapai kematangan seksual, yaitu sekitar tiga belas tahun bagi anak perempuan
dan empat belas tahun bagi anak laki-laki, oleh orang tua disebut sebagai usia
yang “menyulitkan”, “tidak rapih” atau usia “bertengkar”; oleh para pendidik
disebut usia “sekolah dasar”; dan oleh ahli psikologi disebut sebagai “ usia
kelompok”, “usia penyesuaian” atau “usia kreatif.” Menurut Elizabeth B. Harlock
terdapat beberapa tugas-tugas perkembangan pada anak-anak SD, yaitu :
1. Mempelajari
keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum.
2. Membangun
sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh.
3. Belajar
menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya.
4. Mulai
mengembangkan peran social pria atau wanita yang tepat.
5. Mengembangkan
keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung.
6. Mengembangkan
pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.
7. Mengembangkan
hati nurani, pengertian moral, tata dan tingkatan nilai.
8. Mengembangkan
sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga.
9. Mencapai
kebebasan pribadi.
Namun,
yang perlu kita ketahui bahwasannya terdapat juga beberapa bahaya pada akhir masa
kanak-kanak (anak-anak SD) yang umum merupakan kelanjutan dari bahaya
tahun-tahun sebelumnya, meskipun lain bentuknya. Ada bahaya baru yang timbul
dari perubahan pola hidup anak setelah masuk sekolah. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, bahaya
akhir masa kanak-kanak dapat berbentuk bahaya fisik dan psikologis. Bahaya
psikologis akhir masa kanak-kanak terutama mempengaruhi penyesuaian sosial,
yaitu tugas perkembangan utama mempengaruhi penyesuaian sosial, yaiutu tugas
perkembangan utama dalam periode ini. Bahaya itu sangat besar pengaruhnya pada
penyesuaian pribadi dan pada perkembangan kepribadian anak. Karena pilihan
merupakan dasar bagi pemecahan masalah, pilihan nyata harus tersedia bagi
anak-anak. Jangan biarkan anak-anak membuat keputusan, karena hal tersebut
berbahaya karena bukan mereka yang seharusnya membuat keputusan tersebut. Bahaya
yang lain muncul ketika anak-anak diberitahu mereka dapat membuat keputusan. Kemudian
mereka temukan bahwa orang tua mereka sebenarnya tidak bermaksud demikian. Anak-anak
harus mengetahui langkah-langkah yang harus diambil sendiri oleh mereka agar
aman dan selamat. Membuat keputusan tidak mudah, tetapi dapat menjadi kurang
sulit jika anak-anak semakin menyadari bahwa mereka dapat membantu
menyelesaikan masalah, melihat bahwa masalah dapat mempunyai lebih dari satu
solusi, dan satu solusi tertentu mungkin lebih baik dari yang lain, dan mempelajari
hambatannya dan memikirkan hanya sebuah masalah sebelum bertindak.
Untuk
itu diperlukannya bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar. Sasaran layanan
konseling di SD adalah anak-anak yang masih sangat muda. Barangkali masih ada
yang beranggapan bahwa anak-anak yang masih sangat muda jarang mengalami
masalah sehingga layanan konseling sebenarnya tidak diperlukan di SD. Untuk
mereka yang berpendapat seperti itu perlu diingatkan bahwa perkembangan dan
kehidupan itu penuh dengan tantangan, tidak peduli tua ataupun muda, setiap
individu yang berkembang dan hidup pasti selalu menghadapi tantangan. Disamping
itu perlu digarisbawahi pula bahwa masalah-masalah yang ternyata sudah muncul
perlu dientaskan seawall, sesegera, secepat, dan setepat mungkin. Oleh karena
itu, pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, dan layanan konseling
khususnya tetap sangat diperlukan bagi mereka yang masih sangat muda.
Kenyataan
bahwa anak-anak SD merupakan subjek sasaran layanan yang masih amat muda
membawa konsekuensi bahwa konselor harus menyesuaikan segenap kemampuannya
dalam konseling terhadap kondisi perkembangan anak-anak tersebut. Konselor yang
bertujuan memberikan layanan konseling di SD harus memilki khasanah teori dan
teknik konseling yang justru lebih kaya daripada mereka yang bertujuan di
lingkungan sekolah yang lebih tinggi (Nugent, 1981). Teori dan teknik-teknik
konseling perorangan (khususnya yang lebih bersifat direktif) dapat dipakai
untuk anak-anak SD kelas tinggi. Untuk sasaran layanan di SD, terlebih-lebih
lagi untuk anak-anak yang umurnya lebih muda, penyelenggara layanan perlu
dibarengi dengan prosedur penunjang seperti permainana, boneka, cerita dan
prosedur media lainnya. Semua prosedur itu dimaksudkan agar anak-anak mampu
mengekspresikan diri mereka sendiri.
Aspek-aspek
lain juga muncul dalam layanan konseling di SD. Karena anak-anak SD menurut
kenyataannya masih amat tergantung kepada orang tua dan guru, maka dibandingkan
dengan layanan konseling perorangan, layanan konseling kelompok agaknya lebih
mungkin dilaksanakan dengan anak-anak SD. Segi lain tentang layanan konseling
di SD ialah berkenaan dengan kerahasiaan. Meskipun anak-anak SD pada
kenyataannya masih amat muda dan tergantung kepada orang tua, itu tidak berarti
bahwa asas kerahasiaan dalam layanan konseling dengan anak-anak diabaikan.
Karena mereka masih amat muda dan tidak mampu mempertahankan diri.
Konselor
sendiri juga merupakan figur yang penting sebagai sumber alih tangan. Konselor
aktif, yang menunjukkan banyak perhatian dan sering berhubungan dengan anak,
yang sering menampilkan diri di hadapan anak-anak dan sering menciptakan
suasana dan melakukan kegiatan yang menyenangkan dan menguntungkan bagi
anak-anak, akan dirasakan dekat oleh anak-anak dan besar kemungkinan akan
banyak dikunjungi oleh anak-anak itu. Hubungan baik antara konselor dengan
murid, ditambah dengan pemahaman yang cukup baik dari anak-anak tentang fungsi
dan peranan konselor yang dapat diberikan kepada mereka,akan banyak menentukan
frekunsi dan intensitas pemanfaatan jasa konseling oleh anak-anak di SD.
Tidak
boleh dilupakan peranan orang tua secara langsung juga mempunyai pemahaman yang
paling lengkap tentang anak-anak, khususnya tentang hal-hal di luar sekolah.
Orang tua perlu diberi pemahaman tentang fungsi konselor dan layanan yang dapat
diberikannya. Dengan demikian orang tua, guru dan kepala sekolah, perlu
didorong untuk tidak segan-segan mengantarkan anak/muridnya kepada konselor
guna memperoleh layanan yangdibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling.
Jakarta: Rineka Cipta.
Hurlock, Elizabeth B.
1980. Psikologi Perkembangan.
Jakarta: Erlangga.
Rich, Dorothy. 2008. Sukses untuk Anak-anak Kelas 4-6 SD.
Jakarta: Indeks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar