Rabu, 01 Oktober 2014

Pentingnya Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar



Akhir masa kanak-kanak (anak-anak SD) yang berlangsung dari enam tahun sampai anak mencapai kematangan seksual, yaitu sekitar tiga belas tahun bagi anak perempuan dan empat belas tahun bagi anak laki-laki, oleh orang tua disebut sebagai usia yang “menyulitkan”, “tidak rapih” atau usia “bertengkar”; oleh para pendidik disebut usia “sekolah dasar”; dan oleh ahli psikologi disebut sebagai “ usia kelompok”, “usia penyesuaian” atau “usia kreatif.” Menurut Elizabeth B. Harlock terdapat beberapa tugas-tugas perkembangan pada anak-anak SD, yaitu :
1.      Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum.
2.      Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh.
3.      Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya.
4.      Mulai mengembangkan peran social pria atau wanita yang tepat.
5.      Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung.
6.      Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.
7.      Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, tata dan tingkatan nilai.
8.      Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga.
9.      Mencapai kebebasan pribadi.
    Namun, yang perlu kita ketahui bahwasannya terdapat juga beberapa bahaya pada akhir masa kanak-kanak (anak-anak SD) yang umum merupakan kelanjutan dari bahaya tahun-tahun sebelumnya, meskipun lain bentuknya. Ada bahaya baru yang timbul dari perubahan pola hidup anak setelah masuk sekolah.  Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, bahaya akhir masa kanak-kanak dapat berbentuk bahaya fisik dan psikologis. Bahaya psikologis akhir masa kanak-kanak terutama mempengaruhi penyesuaian sosial, yaitu tugas perkembangan utama mempengaruhi penyesuaian sosial, yaiutu tugas perkembangan utama dalam periode ini. Bahaya itu sangat besar pengaruhnya pada penyesuaian pribadi dan pada perkembangan kepribadian anak. Karena pilihan merupakan dasar bagi pemecahan masalah, pilihan nyata harus tersedia bagi anak-anak. Jangan biarkan anak-anak membuat keputusan, karena hal tersebut berbahaya karena bukan mereka yang seharusnya membuat keputusan tersebut. Bahaya yang lain muncul ketika anak-anak diberitahu mereka dapat membuat keputusan. Kemudian mereka temukan bahwa orang tua mereka sebenarnya tidak bermaksud demikian. Anak-anak harus mengetahui langkah-langkah yang harus diambil sendiri oleh mereka agar aman dan selamat. Membuat keputusan tidak mudah, tetapi dapat menjadi kurang sulit jika anak-anak semakin menyadari bahwa mereka dapat membantu menyelesaikan masalah, melihat bahwa masalah dapat mempunyai lebih dari satu solusi, dan satu solusi tertentu mungkin lebih baik dari yang lain, dan mempelajari hambatannya dan memikirkan hanya sebuah masalah sebelum bertindak. 
       Untuk itu diperlukannya bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar. Sasaran layanan konseling di SD adalah anak-anak yang masih sangat muda. Barangkali masih ada yang beranggapan bahwa anak-anak yang masih sangat muda jarang mengalami masalah sehingga layanan konseling sebenarnya tidak diperlukan di SD. Untuk mereka yang berpendapat seperti itu perlu diingatkan bahwa perkembangan dan kehidupan itu penuh dengan tantangan, tidak peduli tua ataupun muda, setiap individu yang berkembang dan hidup pasti selalu menghadapi tantangan. Disamping itu perlu digarisbawahi pula bahwa masalah-masalah yang ternyata sudah muncul perlu dientaskan seawall, sesegera, secepat, dan setepat mungkin. Oleh karena itu, pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, dan layanan konseling khususnya tetap sangat diperlukan bagi mereka yang masih sangat muda. 
      Kenyataan bahwa anak-anak SD merupakan subjek sasaran layanan yang masih amat muda membawa konsekuensi bahwa konselor harus menyesuaikan segenap kemampuannya dalam konseling terhadap kondisi perkembangan anak-anak tersebut. Konselor yang bertujuan memberikan layanan konseling di SD harus memilki khasanah teori dan teknik konseling yang justru lebih kaya daripada mereka yang bertujuan di lingkungan sekolah yang lebih tinggi (Nugent, 1981). Teori dan teknik-teknik konseling perorangan (khususnya yang lebih bersifat direktif) dapat dipakai untuk anak-anak SD kelas tinggi. Untuk sasaran layanan di SD, terlebih-lebih lagi untuk anak-anak yang umurnya lebih muda, penyelenggara layanan perlu dibarengi dengan prosedur penunjang seperti permainana, boneka, cerita dan prosedur media lainnya. Semua prosedur itu dimaksudkan agar anak-anak mampu mengekspresikan diri mereka sendiri.
Aspek-aspek lain juga muncul dalam layanan konseling di SD. Karena anak-anak SD menurut kenyataannya masih amat tergantung kepada orang tua dan guru, maka dibandingkan dengan layanan konseling perorangan, layanan konseling kelompok agaknya lebih mungkin dilaksanakan dengan anak-anak SD. Segi lain tentang layanan konseling di SD ialah berkenaan dengan kerahasiaan. Meskipun anak-anak SD pada kenyataannya masih amat muda dan tergantung kepada orang tua, itu tidak berarti bahwa asas kerahasiaan dalam layanan konseling dengan anak-anak diabaikan. Karena mereka masih amat muda dan tidak mampu mempertahankan diri.
Konselor sendiri juga merupakan figur yang penting sebagai sumber alih tangan. Konselor aktif, yang menunjukkan banyak perhatian dan sering berhubungan dengan anak, yang sering menampilkan diri di hadapan anak-anak dan sering menciptakan suasana dan melakukan kegiatan yang menyenangkan dan menguntungkan bagi anak-anak, akan dirasakan dekat oleh anak-anak dan besar kemungkinan akan banyak dikunjungi oleh anak-anak itu. Hubungan baik antara konselor dengan murid, ditambah dengan pemahaman yang cukup baik dari anak-anak tentang fungsi dan peranan konselor yang dapat diberikan kepada mereka,akan banyak menentukan frekunsi dan intensitas pemanfaatan jasa konseling oleh anak-anak di SD.
Tidak boleh dilupakan peranan orang tua secara langsung juga mempunyai pemahaman yang paling lengkap tentang anak-anak, khususnya tentang hal-hal di luar sekolah. Orang tua perlu diberi pemahaman tentang fungsi konselor dan layanan yang dapat diberikannya. Dengan demikian orang tua, guru dan kepala sekolah, perlu didorong untuk tidak segan-segan mengantarkan anak/muridnya kepada konselor guna memperoleh layanan yangdibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA
Prayitno. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Rich, Dorothy. 2008. Sukses untuk Anak-anak Kelas 4-6 SD. Jakarta: Indeks.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar