Bimbingan Karier di Perguruan Tinggi
Perbedaan antara konseling di sekolah
menengah dan di perguruan tinggi diwarnai oleh arah perkembangan dan
tujuan-tujuan yang hendak dicapai serta kekompleksan program pendidikan dan
latihan di kedua jenjang pendidikan itu. Apabila di sekolah menengah para siswa
belum akan segera dituntut untuk kerja atau terjun di masyarakat, maka para
mahasiswa sudah berada pada batas antara “hidup tergantug pada orang tua” dan
“hidup bebas dan mandiri”. Di samping itu, para siswa di sekolah menengah
mengalami proses pembelajaran yang secara relatif lebih terbimbing daripada
para mahasiswa di perguruan tinggi. Proses pembelajaran di perguruan tiggi
lebih bervariasi dan menuntut kemandirian mahasiswa. Berkenaan dengan hal itu
semua, masalah-masalah yang muncul, yaitu masalah-masalah sosial, pendidikan,
pekerjaan dan masalah-masalah pribadi diri sendiri banyak diwarnai oleh kondisi
akademik perguruan tinggi dan tuntutan kemandirian.
Ciri-ciri Populasi
Ciri-ciri populasi yang memasuki perguruan
tinggi yang akan dikemukakan di sini, yaitu alasan-alasan memilih pendidikan
tinggi. Alasan-alasan bagi keputusan-keputusan itu banyak dan bervariasi. Ada
banyak penelitian yang berkenaan dengan motivasi-motivasi siswa memasuki
perguruan tinggi. Herr dan Cramer (1984 : 293) mengelompokkan alas an-alasan
tersebut menjadi tiga kategori :
Untuk kepuasan diri. Mahasiswa-mahasiswa
yang tergolong dalam kategori ini terutama mencari identitas pribadi dan
pemenuhan diri.
Untuk mengejar karier. Mahasiswa-mahasiswa
yang tergolong dalam kategori ini memasuki perguruan tinggi terutama karena
alas an-alasan vokasional, yaitu menerima persiapan khusus atau
penghargaan-penghargaan yang diperlukan untuk memasuki profesi khusus atau
menyiapkan diri untuk latihan dan pendidikan yang lebih tinggi. Pengalaman
perguruan tinggi dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan dan bukan sebagai
tujuan itu sendiri.
Untuk menghindar. Keputusan memasuki
perguruan tinggi bagi mahasiswa-mahasiswa ini lebih banyak merupakan
penghindaraan daripada pengejaran suatu tujuan yang positif, disadari, dan
sungguh-sungguh. Kadang-kadang mereka masuk ke perguruan tinggi karena unutk
menghindari wajib militer.
Dalam kaitannya dengan bimbingan karier,
mahasiswa-mahasiswa yang tergolong dalam setiap kategori tersebut di atas pada
akhirnya akan memerlukan bimbingan karier. Yang tergolong kategoro pertama,
pada suatu waktu menyadari bahwa walaupun perkembangan pribadi dan peningkatan
jiwa dan semangat merupakan tujuan-tujuan yang patut dipuji, kebanyakan
orang-orang di masyarakat kita diharapkan dan diwajibkan bekerja. Yang
tergolong kategori kedua bukan tidak jarang menjumpai bahwa pilihan karier yang
semula tidak sesuai dan mencari alternatif-alternatif okupasional. Yang
tergolong kategori ketiga pada akhirnya menyadari bahwa orang tidak dapat
menangguhkan memilih karier untuk seterusnya.
Pertimbangan Perencanaan
Pertimbangan perencanaan pertama
penyediaan bimbingan dan konseling karier di perguruan tinggi mencangkup
komitmen institusional. Perguruan tinggi harus mengakui legitimasi fungsi
bantuan karier sebagai suatu bagian yang bonafide dari keseluruhan kegiatan
pendidikan tinggi. Selanjutnya, lembaga-lembaga ini harus menyediakan
tenaga-tenaga terlatih dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk menjalankan
fungsi bimbingan karier.
Pertimbangan perencanaan kedua di
perguruan tinggi berhubungan dengan kesegeraan (immediacy) kebutuhan-kebutuhan bimbingan karier
mahasiswa-mahasiswa. Penangguhan, perilaku-perilaku yang bersifat memperlambat,
dan taktik-taktik menunda-nunda dalam pengambilan keputusan menjadi
alternatif-alternatif yang kurang menarik dalam kehidupan mahasiswa-mahasiswa.
Masalahnya adalah bahwa upacara wisuda makin dekat, dan kebanyakan mahasiswa
mendapat desakan keras dari orang tua, keluarga, sahabat dan orang-orang lain
agar menentukan tujuan-tujuan kariernya.
Ketiga, dalam merencanakan
program-program bimbingan karier di perguruan tinggi, hendaknya disediakan
layanan-layanan yang lengkap. Hale (1974) mengemukakan perbedaan-perbedaan antara
tipe-tipe layanan-layanan bibingan karier yang harus tersedia di kampus. Career advising yang dipandang sebagai
pemberian nasihat akademik oleh staf fakultas, yang menerjemahkan
pilihan-pilihan karier kedalam tujuan-tujuan dan program-program pendidikan dan
menghubungkan kurikula akademik dengan kesempatan-kesempatan karier. Konseling
karier dipersepsikan sebagai prosedur-prosedur psikologis yang digunakan untuk
membantu mahasiswa-mahasiswa dalam evaluasi diri dan pengenalan
kapabilitas-kapabilitas dan minat-minat. Perencanaan karier dipandang sebgai
proses menghubungkan hasil dari evaluasi diri dengan informasi yang tersedia
sekarang tentang dunia kerja. Layanan-layanan ini haruslah membawa kepada suatu
system yang terintegrasi dan terkoordinasi.
Tujuan-tujuan
bimbingan karier. Tujuan-tujuan bimbingan karier di perguruan tinggi adalah
sebagai berikut :
1. Bantuan
dalam memilih bidang studi. Banyak mahasiswa baru yang akan mengubah jurusannya
paling sedikit satu kali selama mereka di perguruan tinggi. Fenomena ini
mungkin berlangsung pada sekitar dua tahun pertama di perguruan tinggi. Setiap
perubahan disiplin akademik membawa serta perubahan yang sepadan dalam
perencanaan karier di mana bimbingan karier harus memberikan respons.
2. Bantuan
dalam penilaian diri dan analisis diri. Pilihan-pilihan karier yang sesuai
tidak dapat dilakukan oleh individu-individu yang tidak memiliki ide yang cukup
jelas mengenai siapa dirinya, kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangannya,
apa nilai yang dijunjung tinggi, motivasi-motivasinya, ciri-ciri psikologisnya,
dan minat-minatnya. Singkatnya, mahasiswa-mahasiswa harus dibantu menemukan
baik identitas pribadi maupun identitas vokasional yang kemudian dapat
dihubungkan dengan dunia kerja.
3. Bantuan
dalam memahami dunia kerja. Di tingkat perguruan tinggi, ada kemungkinan bahwa
kebanyakan mahasiswa akan memiliki pemahaman yang luas dan mendalam tentang
struktur okupasional. Akan tetapi, banyak mahasiswa mungkin perlu bantuan dalam
eksplorasi segmen-segmen khusus dari struktur itu yang secara pribadi relavan
(misalnya, pekerjaan apa yang berhubungan dengan jurusan tertentu? Bagaimana
harapan pekerjaan dalam suatu bidang okupasional khusus? Kesempatan-kesempatan
apa yang tersedia dalam bidang yang dipilih?)
4. Bantuan
dalam pengambilan keputusan. Informasi, baik tentang diri ataupun tentang
sesuatu di luar diri, yaitu pilihan-pilihan karier, hanya sedikit manfaatnya
jika tidak diproses secara efektif. Informasi seperti itu harus diterjemahkan
ke dalam tujuan-tujuan karier jangka pendek dan jangka panjang serta kemudian
dites dalam realitas. Secara ideal, rencana pribadi haruslah konsisten dengan
informasi yang telah dikumpulkan.
5. Bantuan
memasuki dunia kerja. Penempatan, dalam arti luas lebih dari sekedar upaya
menghubungkan mahasiswa-mahasiswa yang mencari pekerjaan dengan
pekerjaan-pekerjaan yang tersedia. Penempatan terdiri dari serangkaian layanan
yang dimaksudkan untuk membantu mahasiswa-mahasiswa memasuki dunia kerja.
6. Bantuan
dalam menemukan kebutuhan-kebutuhan unik berbagai sub populasi. Diantara
sub-sub populasi ini adalah minoritas-minoritas yang kelihatan (misalnya Cina,
India, Arab dan sebagainya), dan minoritas-minoritas yang kurang jelas
kelihatannya (misalnya mahasiswa-mahasiswa homoseksual dan lesbian),
mahasiswa-mahasiswa asing, mahasiswa-mahasiswa pria dan wanita,
mahasiswa-mahasiswa dari jurusan-jurusan yang mungkin memerlukan
layanan-layanan yang berbeda dari yang lainnya, dan sebagainya. Kampus-kampus
hendaknya menyediakan program-program yang dimaksudkan untuk menemukan
kebutuhan-kebutuhan bimbingan karier bagi kelompok-kelompok seperti itu, sejauh
kebutuhan-kebutuhan ini menyimpang dari yang biasanya.
Pada
dasarnya, perguruan tinggi telah menggunakan empat pendekatan utama dalam
pemberian bimbingan karier: (1) mata-mata kuliah, lokakarya-lokakaryanya, dan
seminar-seminar yang memberikan pengalaman-pengalaman kelompok berstruktur
dalam perencanaan karier; (2) aktivitas-aktivitas bimbingan kelompok yang
biasanya kurang berstruktur dan menekankan pada aspek-aspek yang lebih efektif
dari perkembangan manusia dan karier; (3) kesempatan-kesempatan konseling
individual yang beraksentuasi pada berbagai orientasi teoretis terhadap karier;
dan (4) program-program penempatan yang merupakan puncak dari proses
perencanaan dan pengambilan keputusan karier.
Praktek
pelaksanaan konseling di perguruan tinggi tidak banyak berbeda daripada
pelaksanaannya di sekolah menengah. Penekanan pada kondisi akademik dan
kemandirian mewarnai pelaksanaan konseling. Sumber alih tangan klien lebih banyak
ditekankan pada keadaan mahasiswa sendiri. Oleh karena itu permasyarakatan
pelayanan bimbingan dan konseling dan peranan konselor lebih perlu diperluas
melalui berbagai media yang ada di kampus. Unit pelayanan bimbingan dan
konseling yang ada perlu bekerja sama dengan unit-unit yang langsung
berhubungan dengan mahasiswa. Pertama, untuk ikut serta memasyarakatkan
pelayanan bimbingan dan konseling dan kedua untuk menjadi “agen alih tangan”.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno,
Erman Amti. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan
Konseling. Cet. 2. Jakarta: Rineka Cipta.
Manrihu,
Mohammad Thayeb. 1992. Pengantar
Bimbingan dan Konseling Karier. Cet. 1. Jakarta: Bumi aksara.