Kamis, 16 Oktober 2014



Bimbingan Karier di Perguruan Tinggi
Perbedaan antara konseling di sekolah menengah dan di perguruan tinggi diwarnai oleh arah perkembangan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai serta kekompleksan program pendidikan dan latihan di kedua jenjang pendidikan itu. Apabila di sekolah menengah para siswa belum akan segera dituntut untuk kerja atau terjun di masyarakat, maka para mahasiswa sudah berada pada batas antara “hidup tergantug pada orang tua” dan “hidup bebas dan mandiri”. Di samping itu, para siswa di sekolah menengah mengalami proses pembelajaran yang secara relatif lebih terbimbing daripada para mahasiswa di perguruan tinggi. Proses pembelajaran di perguruan tiggi lebih bervariasi dan menuntut kemandirian mahasiswa. Berkenaan dengan hal itu semua, masalah-masalah yang muncul, yaitu masalah-masalah sosial, pendidikan, pekerjaan dan masalah-masalah pribadi diri sendiri banyak diwarnai oleh kondisi akademik perguruan tinggi dan tuntutan kemandirian.
Ciri-ciri Populasi
Ciri-ciri populasi yang memasuki perguruan tinggi yang akan dikemukakan di sini, yaitu alasan-alasan memilih pendidikan tinggi. Alasan-alasan bagi keputusan-keputusan itu banyak dan bervariasi. Ada banyak penelitian yang berkenaan dengan motivasi-motivasi siswa memasuki perguruan tinggi. Herr dan Cramer (1984 : 293) mengelompokkan alas an-alasan tersebut menjadi tiga kategori :
Untuk kepuasan diri. Mahasiswa-mahasiswa yang tergolong dalam kategori ini terutama mencari identitas pribadi dan pemenuhan diri.
Untuk mengejar karier. Mahasiswa-mahasiswa yang tergolong dalam kategori ini memasuki perguruan tinggi terutama karena alas an-alasan vokasional, yaitu menerima persiapan khusus atau penghargaan-penghargaan yang diperlukan untuk memasuki profesi khusus atau menyiapkan diri untuk latihan dan pendidikan yang lebih tinggi. Pengalaman perguruan tinggi dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan dan bukan sebagai tujuan itu sendiri.
Untuk menghindar. Keputusan memasuki perguruan tinggi bagi mahasiswa-mahasiswa ini lebih banyak merupakan penghindaraan daripada pengejaran suatu tujuan yang positif, disadari, dan sungguh-sungguh. Kadang-kadang mereka masuk ke perguruan tinggi karena unutk menghindari wajib militer.
Dalam kaitannya dengan bimbingan karier, mahasiswa-mahasiswa yang tergolong dalam setiap kategori tersebut di atas pada akhirnya akan memerlukan bimbingan karier. Yang tergolong kategoro pertama, pada suatu waktu menyadari bahwa walaupun perkembangan pribadi dan peningkatan jiwa dan semangat merupakan tujuan-tujuan yang patut dipuji, kebanyakan orang-orang di masyarakat kita diharapkan dan diwajibkan bekerja. Yang tergolong kategori kedua bukan tidak jarang menjumpai bahwa pilihan karier yang semula tidak sesuai dan mencari alternatif-alternatif okupasional. Yang tergolong kategori ketiga pada akhirnya menyadari bahwa orang tidak dapat menangguhkan memilih karier untuk seterusnya.
Pertimbangan Perencanaan
Pertimbangan perencanaan pertama penyediaan bimbingan dan konseling karier di perguruan tinggi mencangkup komitmen institusional. Perguruan tinggi harus mengakui legitimasi fungsi bantuan karier sebagai suatu bagian yang bonafide dari keseluruhan kegiatan pendidikan tinggi. Selanjutnya, lembaga-lembaga ini harus menyediakan tenaga-tenaga terlatih dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk menjalankan fungsi bimbingan karier.
Pertimbangan perencanaan kedua di perguruan tinggi berhubungan dengan kesegeraan (immediacy) kebutuhan-kebutuhan bimbingan karier mahasiswa-mahasiswa. Penangguhan, perilaku-perilaku yang bersifat memperlambat, dan taktik-taktik menunda-nunda dalam pengambilan keputusan menjadi alternatif-alternatif yang kurang menarik dalam kehidupan mahasiswa-mahasiswa. Masalahnya adalah bahwa upacara wisuda makin dekat, dan kebanyakan mahasiswa mendapat desakan keras dari orang tua, keluarga, sahabat dan orang-orang lain agar menentukan tujuan-tujuan kariernya.
Ketiga, dalam merencanakan program-program bimbingan karier di perguruan tinggi, hendaknya disediakan layanan-layanan yang lengkap. Hale (1974) mengemukakan perbedaan-perbedaan antara tipe-tipe layanan-layanan bibingan karier yang harus tersedia di kampus. Career advising yang dipandang sebagai pemberian nasihat akademik oleh staf fakultas, yang menerjemahkan pilihan-pilihan karier kedalam tujuan-tujuan dan program-program pendidikan dan menghubungkan kurikula akademik dengan kesempatan-kesempatan karier. Konseling karier dipersepsikan sebagai prosedur-prosedur psikologis yang digunakan untuk membantu mahasiswa-mahasiswa dalam evaluasi diri dan pengenalan kapabilitas-kapabilitas dan minat-minat. Perencanaan karier dipandang sebgai proses menghubungkan hasil dari evaluasi diri dengan informasi yang tersedia sekarang tentang dunia kerja. Layanan-layanan ini haruslah membawa kepada suatu system yang terintegrasi dan terkoordinasi.
Tujuan-tujuan bimbingan karier. Tujuan-tujuan bimbingan karier di perguruan tinggi adalah sebagai berikut :
1.      Bantuan dalam memilih bidang studi. Banyak mahasiswa baru yang akan mengubah jurusannya paling sedikit satu kali selama mereka di perguruan tinggi. Fenomena ini mungkin berlangsung pada sekitar dua tahun pertama di perguruan tinggi. Setiap perubahan disiplin akademik membawa serta perubahan yang sepadan dalam perencanaan karier di mana bimbingan karier harus memberikan respons.
2.      Bantuan dalam penilaian diri dan analisis diri. Pilihan-pilihan karier yang sesuai tidak dapat dilakukan oleh individu-individu yang tidak memiliki ide yang cukup jelas mengenai siapa dirinya, kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangannya, apa nilai yang dijunjung tinggi, motivasi-motivasinya, ciri-ciri psikologisnya, dan minat-minatnya. Singkatnya, mahasiswa-mahasiswa harus dibantu menemukan baik identitas pribadi maupun identitas vokasional yang kemudian dapat dihubungkan dengan dunia kerja.
3.      Bantuan dalam memahami dunia kerja. Di tingkat perguruan tinggi, ada kemungkinan bahwa kebanyakan mahasiswa akan memiliki pemahaman yang luas dan mendalam tentang struktur okupasional. Akan tetapi, banyak mahasiswa mungkin perlu bantuan dalam eksplorasi segmen-segmen khusus dari struktur itu yang secara pribadi relavan (misalnya, pekerjaan apa yang berhubungan dengan jurusan tertentu? Bagaimana harapan pekerjaan dalam suatu bidang okupasional khusus? Kesempatan-kesempatan apa yang tersedia dalam bidang yang dipilih?)
4.      Bantuan dalam pengambilan keputusan. Informasi, baik tentang diri ataupun tentang sesuatu di luar diri, yaitu pilihan-pilihan karier, hanya sedikit manfaatnya jika tidak diproses secara efektif. Informasi seperti itu harus diterjemahkan ke dalam tujuan-tujuan karier jangka pendek dan jangka panjang serta kemudian dites dalam realitas. Secara ideal, rencana pribadi haruslah konsisten dengan informasi yang telah dikumpulkan.
5.      Bantuan memasuki dunia kerja. Penempatan, dalam arti luas lebih dari sekedar upaya menghubungkan mahasiswa-mahasiswa yang mencari pekerjaan dengan pekerjaan-pekerjaan yang tersedia. Penempatan terdiri dari serangkaian layanan yang dimaksudkan untuk membantu mahasiswa-mahasiswa memasuki dunia kerja.
6.      Bantuan dalam menemukan kebutuhan-kebutuhan unik berbagai sub populasi. Diantara sub-sub populasi ini adalah minoritas-minoritas yang kelihatan (misalnya Cina, India, Arab dan sebagainya), dan minoritas-minoritas yang kurang jelas kelihatannya (misalnya mahasiswa-mahasiswa homoseksual dan lesbian), mahasiswa-mahasiswa asing, mahasiswa-mahasiswa pria dan wanita, mahasiswa-mahasiswa dari jurusan-jurusan yang mungkin memerlukan layanan-layanan yang berbeda dari yang lainnya, dan sebagainya. Kampus-kampus hendaknya menyediakan program-program yang dimaksudkan untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan bimbingan karier bagi kelompok-kelompok seperti itu, sejauh kebutuhan-kebutuhan ini menyimpang dari yang biasanya.
Pada dasarnya, perguruan tinggi telah menggunakan empat pendekatan utama dalam pemberian bimbingan karier: (1) mata-mata kuliah, lokakarya-lokakaryanya, dan seminar-seminar yang memberikan pengalaman-pengalaman kelompok berstruktur dalam perencanaan karier; (2) aktivitas-aktivitas bimbingan kelompok yang biasanya kurang berstruktur dan menekankan pada aspek-aspek yang lebih efektif dari perkembangan manusia dan karier; (3) kesempatan-kesempatan konseling individual yang beraksentuasi pada berbagai orientasi teoretis terhadap karier; dan (4) program-program penempatan yang merupakan puncak dari proses perencanaan dan pengambilan keputusan karier.
Praktek pelaksanaan konseling di perguruan tinggi tidak banyak berbeda daripada pelaksanaannya di sekolah menengah. Penekanan pada kondisi akademik dan kemandirian mewarnai pelaksanaan konseling. Sumber alih tangan klien lebih banyak ditekankan pada keadaan mahasiswa sendiri. Oleh karena itu permasyarakatan pelayanan bimbingan dan konseling dan peranan konselor lebih perlu diperluas melalui berbagai media yang ada di kampus. Unit pelayanan bimbingan dan konseling yang ada perlu bekerja sama dengan unit-unit yang langsung berhubungan dengan mahasiswa. Pertama, untuk ikut serta memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling dan kedua untuk menjadi “agen alih tangan”.

DAFTAR PUSTAKA
Prayitno, Erman Amti. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Cet. 2. Jakarta: Rineka Cipta.
Manrihu, Mohammad Thayeb. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling Karier. Cet. 1. Jakarta: Bumi aksara.

Rabu, 08 Oktober 2014

Konseling di Sekolah Menengah




Sasaran bimbingan dan konseling di sekolah menengah, sama seperti di sekolah pada tiap jenjang, yaitu adalah tiap-tiap pribadi siswa secara perorangan, dalam arti mengembangkan apa yang ada pada diri tiap-tiap individu (siswa) secara optimal agar masing-masing individu dapat sebesar-besarnya berguna bagi dirinya sendiri, lingkungannya, dan masyarakat pada umumnya. Sasaran pengembangan pribadi tiap-tiap siswa melalui pelayanan bimbingan dan konseling melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut yaitu pengungkapan, pengenalan dan penerimaan diri. Namun setiap individu (siswa) pasti memiliki kompleksitas masalahnya berbeda satu dengan yang lain. Jika dibandingkan antara siswa menengah dengan siswa SD jelaslah sangat berbeda jauh. Siswa menengah memiliki banyak gejolak yang menandai atau menjadi ciri khas pada tahap perkembangan remaja itu. Namun dalam hal ini, tidak semua individu (siswa) menengah mengenal atau mengetahui masalah dirinya. Oleh sebab itu, individu tersebut harus dibantu untuk mengenali masalahnya. Selanjutnya yang mesti diungkap dari individu adalah potensi-potensi diri dan masalah yang dihadapinya, sedangkan yang diungkap adalah semua siswa yang menjadi sasaran pelayanan bimbingan dan konseling. Cara mengungkap potensi-potensi dan masalh individu bisa dilakukan melalui konseling atau cara yang lainnya seperti tes, observasi, angket, wawancara, sosiometri, catatan pribadi, kunjungan rumah, dan lain-lain.
Terdapat beberapa bahaya pada masa remaja seperti bahaya fisik dan bahaya psikologis. Bahaya fisik meliputi kematian akibat penyakit, bunuh diri atau percobaan bunuh diri, dan cacat fisik. Bahaya psikologis dapat terjadi akibat pola perilaku sosial, perilaku seksual, perilaku moral dan hubungan keluarga. Konselor di sekolah menengah dituntut untuk memahami berbagai gejolak yang secara potensial sering muncul itu dan cara-cara penanganannya. Bentuk-bentuk permasalahan khusus seperti masalah hubungan muda-mudi, masalah perkembangan seksual, masalah sosial dan ekonomi, serta masalah masa depan banyak muncul di antara para remaja itu.
Setiap individu (siswa) memiliki tingkat masalah yang berbeda satu sama lain, yaitu siswa mengalami masalah-masalah yang berkenaan dengan : Pertama, perkembangan individu. Kedua perbedaan inividu dalam hal kecerdasan, kecakapan, hasil belajar, bakat, sikap, kebiasaan, pengetahuan, kepribadian, cita-cita, kebutuhan, minat, pola-pola dan tempo perkembangan, ciri-ciri jasmaniah, dan latar belakang lingkungan. Ketiga, kebutuhan individu dalam hal memperoleh kasih saying, memperoleh harga diri, memperoleh penghargaan yang sama, ingin dikenal, memperoleh prestasi dan posisi, untuk dibutuhkan orang lain, merasa bagian dari kelompok, rasa aman dan perlindungan diri, serta untuk memperoleh kemerdekaan diri. Keempat, penyesuaian diri, dan kelainan tingkah laku. Kelima, masalah belajar.
Pendekatan dan teknik-teknik konseling dalam berbagai bentuknya dapat dipakai terhadap para pemuda yang sudah lebih berkembang daripada anak-anak SD itu. Aplikasi pendekatan dan teknik konseling serta penyesuaiannya banyak tergantung pada keunikan klien dan masalahnya, serta spesialisasi keahlian konselor sendiri. Tentang sumber alih tangan klien, sama dengan yang telah diuraikan terlebih dahulu, yaitu sangat mengandalkan pada peranan guru, kepala sekolah, siswa dan konselor sendiri,serta orang tua. kehadiran konselor langsung di hadapan para siswa(di muka kelas dan pada kesempatan-kesempatan lain), disertai dengan informasi yang tepat dan mantap tentang fungsi konselor dan pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, akan sangat membantu peningkatan pemanfaatan layanan konseling oleh para siswa.
Tujuan-tujuan bimbingan dan konseling, selain memperkuat tujuan-tujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada umumnya. Hal ini dapat dimengerti karena berbagai program bimbingan dan konseling yaitu meliputi aspek-aspek tugas perkembangan individu, khususnya yang menyangkut kematangan pendidikan dan karier, emosional, dan kematangan social, semuanya diperuntukkan bagi peserta baik pada jenjang pendidikan dasar (SD), pendidikan menengah pertama (SMP), dan pendidikan menengah atas (SMA).

DAFTAR PUSTAKA
Prayitno, Erman Amti. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Cet. 2. Jakarta: Rineka Cipta.
Tohirin. 2011. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Cet. 4. Jakarta: Rajawali Pers.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Ed. 5. Jakarta: Erlangga.

Rabu, 01 Oktober 2014

Pentingnya Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar



Akhir masa kanak-kanak (anak-anak SD) yang berlangsung dari enam tahun sampai anak mencapai kematangan seksual, yaitu sekitar tiga belas tahun bagi anak perempuan dan empat belas tahun bagi anak laki-laki, oleh orang tua disebut sebagai usia yang “menyulitkan”, “tidak rapih” atau usia “bertengkar”; oleh para pendidik disebut usia “sekolah dasar”; dan oleh ahli psikologi disebut sebagai “ usia kelompok”, “usia penyesuaian” atau “usia kreatif.” Menurut Elizabeth B. Harlock terdapat beberapa tugas-tugas perkembangan pada anak-anak SD, yaitu :
1.      Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum.
2.      Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh.
3.      Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya.
4.      Mulai mengembangkan peran social pria atau wanita yang tepat.
5.      Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung.
6.      Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.
7.      Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, tata dan tingkatan nilai.
8.      Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga.
9.      Mencapai kebebasan pribadi.
    Namun, yang perlu kita ketahui bahwasannya terdapat juga beberapa bahaya pada akhir masa kanak-kanak (anak-anak SD) yang umum merupakan kelanjutan dari bahaya tahun-tahun sebelumnya, meskipun lain bentuknya. Ada bahaya baru yang timbul dari perubahan pola hidup anak setelah masuk sekolah.  Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, bahaya akhir masa kanak-kanak dapat berbentuk bahaya fisik dan psikologis. Bahaya psikologis akhir masa kanak-kanak terutama mempengaruhi penyesuaian sosial, yaitu tugas perkembangan utama mempengaruhi penyesuaian sosial, yaiutu tugas perkembangan utama dalam periode ini. Bahaya itu sangat besar pengaruhnya pada penyesuaian pribadi dan pada perkembangan kepribadian anak. Karena pilihan merupakan dasar bagi pemecahan masalah, pilihan nyata harus tersedia bagi anak-anak. Jangan biarkan anak-anak membuat keputusan, karena hal tersebut berbahaya karena bukan mereka yang seharusnya membuat keputusan tersebut. Bahaya yang lain muncul ketika anak-anak diberitahu mereka dapat membuat keputusan. Kemudian mereka temukan bahwa orang tua mereka sebenarnya tidak bermaksud demikian. Anak-anak harus mengetahui langkah-langkah yang harus diambil sendiri oleh mereka agar aman dan selamat. Membuat keputusan tidak mudah, tetapi dapat menjadi kurang sulit jika anak-anak semakin menyadari bahwa mereka dapat membantu menyelesaikan masalah, melihat bahwa masalah dapat mempunyai lebih dari satu solusi, dan satu solusi tertentu mungkin lebih baik dari yang lain, dan mempelajari hambatannya dan memikirkan hanya sebuah masalah sebelum bertindak. 
       Untuk itu diperlukannya bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar. Sasaran layanan konseling di SD adalah anak-anak yang masih sangat muda. Barangkali masih ada yang beranggapan bahwa anak-anak yang masih sangat muda jarang mengalami masalah sehingga layanan konseling sebenarnya tidak diperlukan di SD. Untuk mereka yang berpendapat seperti itu perlu diingatkan bahwa perkembangan dan kehidupan itu penuh dengan tantangan, tidak peduli tua ataupun muda, setiap individu yang berkembang dan hidup pasti selalu menghadapi tantangan. Disamping itu perlu digarisbawahi pula bahwa masalah-masalah yang ternyata sudah muncul perlu dientaskan seawall, sesegera, secepat, dan setepat mungkin. Oleh karena itu, pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, dan layanan konseling khususnya tetap sangat diperlukan bagi mereka yang masih sangat muda. 
      Kenyataan bahwa anak-anak SD merupakan subjek sasaran layanan yang masih amat muda membawa konsekuensi bahwa konselor harus menyesuaikan segenap kemampuannya dalam konseling terhadap kondisi perkembangan anak-anak tersebut. Konselor yang bertujuan memberikan layanan konseling di SD harus memilki khasanah teori dan teknik konseling yang justru lebih kaya daripada mereka yang bertujuan di lingkungan sekolah yang lebih tinggi (Nugent, 1981). Teori dan teknik-teknik konseling perorangan (khususnya yang lebih bersifat direktif) dapat dipakai untuk anak-anak SD kelas tinggi. Untuk sasaran layanan di SD, terlebih-lebih lagi untuk anak-anak yang umurnya lebih muda, penyelenggara layanan perlu dibarengi dengan prosedur penunjang seperti permainana, boneka, cerita dan prosedur media lainnya. Semua prosedur itu dimaksudkan agar anak-anak mampu mengekspresikan diri mereka sendiri.
Aspek-aspek lain juga muncul dalam layanan konseling di SD. Karena anak-anak SD menurut kenyataannya masih amat tergantung kepada orang tua dan guru, maka dibandingkan dengan layanan konseling perorangan, layanan konseling kelompok agaknya lebih mungkin dilaksanakan dengan anak-anak SD. Segi lain tentang layanan konseling di SD ialah berkenaan dengan kerahasiaan. Meskipun anak-anak SD pada kenyataannya masih amat muda dan tergantung kepada orang tua, itu tidak berarti bahwa asas kerahasiaan dalam layanan konseling dengan anak-anak diabaikan. Karena mereka masih amat muda dan tidak mampu mempertahankan diri.
Konselor sendiri juga merupakan figur yang penting sebagai sumber alih tangan. Konselor aktif, yang menunjukkan banyak perhatian dan sering berhubungan dengan anak, yang sering menampilkan diri di hadapan anak-anak dan sering menciptakan suasana dan melakukan kegiatan yang menyenangkan dan menguntungkan bagi anak-anak, akan dirasakan dekat oleh anak-anak dan besar kemungkinan akan banyak dikunjungi oleh anak-anak itu. Hubungan baik antara konselor dengan murid, ditambah dengan pemahaman yang cukup baik dari anak-anak tentang fungsi dan peranan konselor yang dapat diberikan kepada mereka,akan banyak menentukan frekunsi dan intensitas pemanfaatan jasa konseling oleh anak-anak di SD.
Tidak boleh dilupakan peranan orang tua secara langsung juga mempunyai pemahaman yang paling lengkap tentang anak-anak, khususnya tentang hal-hal di luar sekolah. Orang tua perlu diberi pemahaman tentang fungsi konselor dan layanan yang dapat diberikannya. Dengan demikian orang tua, guru dan kepala sekolah, perlu didorong untuk tidak segan-segan mengantarkan anak/muridnya kepada konselor guna memperoleh layanan yangdibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA
Prayitno. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Rich, Dorothy. 2008. Sukses untuk Anak-anak Kelas 4-6 SD. Jakarta: Indeks.

Kamis, 25 September 2014

Perlukah Bimbingan dan Konseling Bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah?

Pada berbagai peraturan dan perundang-undangan di bidang pendidikan, misalnya pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi peserta didik yang memiliki Kelainan dan memiliki Potensi Kecerdasan dan / atau Bakat istimewa, istilah atau sebutan bagi anak yang memiliki hambatan atau gangguan fisik, emosional, mental dan social disebut anak yang memiliki “kelainan”. Anak tersebut memerlukan pendidikan khusus. Anak yang memerlukan pendidikan khusus termasuk juga anak yang memiliki potensi kecerdasan dan / atau bakat istimewa. Namun seiring dengan gerakan-gerakan inklusifitas yang humanism aka sebutan anak yang memiliki kelainan disebut “anak berkebutuhan khusus” atau ABK.
Berbicara anak berkebutuhan khusus sebenarnya berbicara pula anak berkebutuhan khusus yang sifatnya permanen dan temporer. Anak berkebutuhan khusus yang sifatnya temporer adalah anak yang berasal dari daerah yang terpencil atau terbelakang, anak yang berasal dari masyarakat adat yang terpencil dan / atau mengalami bencana alam, bencana social dan tidak mampu dari segi ekonomi. Jika dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 maka anak berkebutuhan khusus yang sifatnya permanen tersebut adalah anak yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan / atau bakat istimewa yang memerlukan pendidikan khusus seperti dijelaskan pada Pasal 32 ayat (1) sebagai berikut : “Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, social, dan / atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.”
Anak berkebutuhan khusus memerlukan pendidikan khusus. Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena hambatan / gangguan / kelainan fisik, emosional, mental, social, dan / atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Dengan pendidikan diharapkan anak berkebutuhan khusus memperoleh bekal hidup dan mencapai perkembangan yang optimal. Namun, dengan menumpuknya berbagai permasalahan yang dihadapi oleh anak berkebutuhan khusus, tidaklah cukup melalui pendidikan dengan proses belajar mengajar di kelas. Anak berkebutuhan khusus juga butuh layanan yang memandirikan untuk mencapai perkembangan yang optimal. Layanan itu adalah bimbingan dan konseling. Kebutuhan layanan bimbingan dan konseling ini ternyata tidak hanya dibutukan oleh anak berkebutuhan khusus tapi juga oleh orang tuanya tau keluarganya serta hal-hal lain yang diluar jangkauan kemampuan dan kewenagan guru.
Pada dasarnya kebutuhan anak berkebutuhan khusus sama dengan anak-anak lainnya, yaitu kebutuhan jasmani dan rohani. Tapi ada hal-hal khusus yang membutuhkan penanganan khusus, biasanya berkaitan dengan kelainan atau hambatan atau gangguan yang disandangnya. Di dalam prosesnya dapat berupa pendidikan, pembelajaran yang mendidik dan memandirikan, terapi, layanan bimbingan dan konseling, layanan medis, dan lainnya. Penaganan itu tentunya dilakukan oleh profesi yang sesuai dengan bidangnya. Artinya akan banyak ahli yang terlibat dalam rangka memenuhi kebutuhan anak berkebutuhan khusus itu. Sehingga dikenal dengan pendekatan multi disipliner. Para ahli dari berbagai bidang berkolaborasi memberikan layanan yang tebaik untuk memenuhi kebutuhan anak berkebutuhan khusus agar berkembang secara optimal.
Kebutuhan bimbingan dan konseling bagi anak  berkebutuhan khusus adalah agar anak berkebutuhan khusus mengenal dirinya sendiri, menemukan kebutuhannya yang spesifik sesuai dengan hambatannya atau gangguannya atau kelainannnya. Bimbingan dan konseling tersebut diperlukan berkenaan dengan bimbingan pribadi, social, belajar dan karirnya. Kebutuhan bimbingan dan konseling adalah agar anak berkebutuhan khusus perlu menemukan konsep diri, memfasilitasi penyesuaian diri terhadap kelainan atau hambatan atau gangguannya, mengkoordinasikan dengan ahli lain, melakukan konseling terhadap keluarganya, membantu perkembangna anak berkebutuhan khusus agar berkembang efektif, memiliki keterampilan hidup mandiri, membuka peluan kegiatan rekreasi dan mengembangkan hobi, mengembangkan keterampilan personal dan social, dan bersama-sama merancang perencanaan pendidikan formal, pendidikan tambahan dan peralatan yang dibutuhkan.
Layanan bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam keluarga. Layanan bimbingan dan konseling bagi anak berkebutuhan khusus tertentu lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari.
Beberapa anak berkebutuhan khusus permanen yang memiliki kelainan dan alternatif bantuan bimbingan dan konseling yang dapat diberikan pada beberapa anak berkebutuhan khusus, antara lain :
1. Anak yang memiliki hambatan pengelihatan (tunanetra)
Anak tunanetra adalah anak yang memiliki hambatan dalam pengelihatan yang sedemikian rupa. Tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu buta total (blind) dan kurang awas (low vision).karena tunanetra memiliki keterbatasan dalam indra pengelihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain seperti indra peraba dan indra pendengaran. Bantuan yang dapat diberikan adalah bantuan tentang proses komunikasi verbal, mengembangkan semangat dan konsep diri secara positif dan mengenal gambaran lingkungan sekitarnya dengan jelas. Dalam hal ini, perlu adanya upaya di satuan pendidikan umum dan satuan pendidikan kejuruan agar anak tunanetra mendapat kesempatan dalam mengembangkan Orientasi dan Mobilitas.
2. Anak yang memiliki hambatan pendengaran (tunarungu)
Anak tunarungu adalah anak yang memiliki hambatan dalam pendengaran yang sedemikian rupa. Anak dengan gangguan pendengaran atau tunarungu mengalami kehilangan pendengaran meliputi seluruh tingkatan baik ringan, sedangm berat dan sangat berat yang akan mengakibatkan pada gangguan komunikasi dan bahasa. Karena memiliki hambatan dalam pendengaran, anak tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka sering tertukar pemahamannya dengan tunawicara. Layanan yang dapat diberika pada ank tunarungu adalah bimbingan pribadi dan bimbingan komunikasi dan social untuk memperlancar dalam berkomunikasi, membantu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, membantu menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya dan membantu mengembangkan sikap positif terhadap keadaan dirinya.
3. Anak yang memiliki hambatan kecerdasan atau akademik yang sedemikian rupa (tunagrahita)
Abak tunagrahita adalah anak yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan. Anak tunagrahita mempunyai hambatan akademik yang sedemikian rupa sehingga dalam layanan pembelajarannya memerlukan modifikasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan khususnya. Klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan IQ, yaitu tunagrahita ringan (IQ : 51-70), tunagrahita sedang (IQ : 20-35) dan tunagrahita sangat berat (IQ : dibawah 20). Pembelajaran bagi anak tunagrahita lebih dititik beratkan pada bina diri dan cara bersosialisasi. Bantuan yang dapat diberikan dalam bimbingan dan konseling untuk tunagrahita bisa berupa bimbingan agar anak tunagrahita dapat mengatasi kesulitan mengurus diri sendiri, menggunakan kemampuan dan menyesuaikan diri untuk mendapat keterampulan.
4. Anak yang memiliki hambatan fisik dan fungsi gerak (tunadaksa)
Anak tunadaksa adalah anak yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuromuscular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk cerebral palsy, amputansi polio dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa yang ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktifitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memiliki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik. Altenatif bantuan yang dapat diberikan adalah memberikan penghargaan bagi anak dengan cara menerima apa adanya (self-respect ) agar anak merasa bahwa ia adalah berharga, membantu mengembangkan sikap positif dan membantu menyadari kemampuan yang ada pada dirinya.
5. Anak yang memilki hambatan emosi dan perilaku atau control social (tunalaras)
Anak tunalaras adalah anak yang mengalami gangguan dalam mengendalikan emosi dan perilaku atau control social. Anak tunalaras biasanya menunjukkan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya.anak tunalaras mudah marah, mudah terangsang emosinya, sering menentang perintah, sering melanggar tata tertib, agresif, sering merusak, mengganggu lingkungan dan tidak suka dengan kegiatan yang rutin. Upaya yang dapat dilakukan untuk anak tunalaras dalam bimbingan dan konseling yaitu melatih kedisiplinan, membantu mengembangkan konsep diri yang positif.
6. Anak dengan gangguan hiperaktif (Attention Deficit Hiperactivity Disorder)
Anak penyandang ADHD adalah anak yang mengalami kesulitan untuk ,elakukan pemusatan perhatian terhadap tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Anak ini cenderung hiperaktif, perhatiannya mudah buyar dan mudah frustasi. Dalam hal ini, yang perlu dipikirkan oleh koordinator pelayanan, konselor, dan guru adalah seorang anak ADHD akan membawa risiko perkembangan dirinya yang sangat besar. Akibat dari reaksi negatif lingkungan dapat menyebabkan ia membangun konsep diri yang negatif. Untuk mengatasi hal ini agar ia bisa dibawa kearah berperilaku yang baik, diperlukan pengetahuan dari para ahli perilaku. Hal ini sangat penting untuk diupayakan agar ia mempunyai pengalaman yang sukses.
7. Anak lamban belajar
Anak lamban belajar adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit dibawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi soaial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan tunagrahita, dan lebih lamban disbanding dengan anak pada umumnya. Mereka butuh eaktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik. Upaya yang dapat dilakukan adalah berupa bimbingan untuk mengenal dan mengembangkan konsep diri secara positif dan memberikan kesibukan sebagai pengisi waktu luang.
8. Anak berkebutuhan khusus permanen yang memilki potensi kecerdasan atau bakat istimewa.
Anak yang memilki potensi kecerdasan atau bakat istimewa adalah anak yang secara signifikan memiliki potensi di atas rata-rata dala bidang kemampuan umum, akademik khusus, krativitas, kepemimpinan, seni dan olahraga. Anak yang memilki bakat istimewa yaitu memiliki bakat yang sangat istimewa misalnya dalam bidang seni music, seni suara, seni rupa dan olahraga. Dalam hal ini, konselor berperan dalam asesmen keterbakatan dan memilih alternative pengembangan keterbakatan, yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja.
Dalam hal ini, orang tua memegang informasi utama dan mempunyai peran penting dalam didikan anak. Mereka memiliki kekuatan, pengetahuan, dan pengalaman yang unik menyangkut kebutuhan anak serta cara terbaik mendukung mereka. Oleh karena itu, sangat penting bagi para ahli untuk secara aktif mengusahakan kerja sama dengan orang tua dan menghargai kontribusi mereka. Tugas para ahli lebih efektif jika orang tua terlibat dan jika harapan, perasaan serta pandangan mereka tentang perkembangan anak mereka diperhitungkan. Hal ini terjadi khususnya jika anak memerlukan pendidikan khusus. Seluruh orang tua anak yang membutuhkan pendidikan khusus harus diperlakukan sebagai mitra.
DAFTAR PUSTAKA
Dukes, Chris, dan Maggie Smith. 2009. Cara Menangani Anak Berkebutuhan Pendidikan Khusus: Panduan Guru dan Orang Tua. Jakarta: Indeks.
Kustawan, Dedy. 2013. Bimbingan dan KonselingBagi Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Luxima.
Paternotte, Arga. 2010. ADHD Attention Deficit Hyperactivity Disorder (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas) Gejala, Diagnosis, Terapi, Serta Penanganannya di Rumah dan di Sekolah. Jakarta: Prenada.
Tiel, Julia Maria Van. 2007. Anakku Terlambat Bicara. Jakarta: Prenada.