Kamis, 16 Oktober 2014



Bimbingan Karier di Perguruan Tinggi
Perbedaan antara konseling di sekolah menengah dan di perguruan tinggi diwarnai oleh arah perkembangan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai serta kekompleksan program pendidikan dan latihan di kedua jenjang pendidikan itu. Apabila di sekolah menengah para siswa belum akan segera dituntut untuk kerja atau terjun di masyarakat, maka para mahasiswa sudah berada pada batas antara “hidup tergantug pada orang tua” dan “hidup bebas dan mandiri”. Di samping itu, para siswa di sekolah menengah mengalami proses pembelajaran yang secara relatif lebih terbimbing daripada para mahasiswa di perguruan tinggi. Proses pembelajaran di perguruan tiggi lebih bervariasi dan menuntut kemandirian mahasiswa. Berkenaan dengan hal itu semua, masalah-masalah yang muncul, yaitu masalah-masalah sosial, pendidikan, pekerjaan dan masalah-masalah pribadi diri sendiri banyak diwarnai oleh kondisi akademik perguruan tinggi dan tuntutan kemandirian.
Ciri-ciri Populasi
Ciri-ciri populasi yang memasuki perguruan tinggi yang akan dikemukakan di sini, yaitu alasan-alasan memilih pendidikan tinggi. Alasan-alasan bagi keputusan-keputusan itu banyak dan bervariasi. Ada banyak penelitian yang berkenaan dengan motivasi-motivasi siswa memasuki perguruan tinggi. Herr dan Cramer (1984 : 293) mengelompokkan alas an-alasan tersebut menjadi tiga kategori :
Untuk kepuasan diri. Mahasiswa-mahasiswa yang tergolong dalam kategori ini terutama mencari identitas pribadi dan pemenuhan diri.
Untuk mengejar karier. Mahasiswa-mahasiswa yang tergolong dalam kategori ini memasuki perguruan tinggi terutama karena alas an-alasan vokasional, yaitu menerima persiapan khusus atau penghargaan-penghargaan yang diperlukan untuk memasuki profesi khusus atau menyiapkan diri untuk latihan dan pendidikan yang lebih tinggi. Pengalaman perguruan tinggi dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan dan bukan sebagai tujuan itu sendiri.
Untuk menghindar. Keputusan memasuki perguruan tinggi bagi mahasiswa-mahasiswa ini lebih banyak merupakan penghindaraan daripada pengejaran suatu tujuan yang positif, disadari, dan sungguh-sungguh. Kadang-kadang mereka masuk ke perguruan tinggi karena unutk menghindari wajib militer.
Dalam kaitannya dengan bimbingan karier, mahasiswa-mahasiswa yang tergolong dalam setiap kategori tersebut di atas pada akhirnya akan memerlukan bimbingan karier. Yang tergolong kategoro pertama, pada suatu waktu menyadari bahwa walaupun perkembangan pribadi dan peningkatan jiwa dan semangat merupakan tujuan-tujuan yang patut dipuji, kebanyakan orang-orang di masyarakat kita diharapkan dan diwajibkan bekerja. Yang tergolong kategori kedua bukan tidak jarang menjumpai bahwa pilihan karier yang semula tidak sesuai dan mencari alternatif-alternatif okupasional. Yang tergolong kategori ketiga pada akhirnya menyadari bahwa orang tidak dapat menangguhkan memilih karier untuk seterusnya.
Pertimbangan Perencanaan
Pertimbangan perencanaan pertama penyediaan bimbingan dan konseling karier di perguruan tinggi mencangkup komitmen institusional. Perguruan tinggi harus mengakui legitimasi fungsi bantuan karier sebagai suatu bagian yang bonafide dari keseluruhan kegiatan pendidikan tinggi. Selanjutnya, lembaga-lembaga ini harus menyediakan tenaga-tenaga terlatih dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk menjalankan fungsi bimbingan karier.
Pertimbangan perencanaan kedua di perguruan tinggi berhubungan dengan kesegeraan (immediacy) kebutuhan-kebutuhan bimbingan karier mahasiswa-mahasiswa. Penangguhan, perilaku-perilaku yang bersifat memperlambat, dan taktik-taktik menunda-nunda dalam pengambilan keputusan menjadi alternatif-alternatif yang kurang menarik dalam kehidupan mahasiswa-mahasiswa. Masalahnya adalah bahwa upacara wisuda makin dekat, dan kebanyakan mahasiswa mendapat desakan keras dari orang tua, keluarga, sahabat dan orang-orang lain agar menentukan tujuan-tujuan kariernya.
Ketiga, dalam merencanakan program-program bimbingan karier di perguruan tinggi, hendaknya disediakan layanan-layanan yang lengkap. Hale (1974) mengemukakan perbedaan-perbedaan antara tipe-tipe layanan-layanan bibingan karier yang harus tersedia di kampus. Career advising yang dipandang sebagai pemberian nasihat akademik oleh staf fakultas, yang menerjemahkan pilihan-pilihan karier kedalam tujuan-tujuan dan program-program pendidikan dan menghubungkan kurikula akademik dengan kesempatan-kesempatan karier. Konseling karier dipersepsikan sebagai prosedur-prosedur psikologis yang digunakan untuk membantu mahasiswa-mahasiswa dalam evaluasi diri dan pengenalan kapabilitas-kapabilitas dan minat-minat. Perencanaan karier dipandang sebgai proses menghubungkan hasil dari evaluasi diri dengan informasi yang tersedia sekarang tentang dunia kerja. Layanan-layanan ini haruslah membawa kepada suatu system yang terintegrasi dan terkoordinasi.
Tujuan-tujuan bimbingan karier. Tujuan-tujuan bimbingan karier di perguruan tinggi adalah sebagai berikut :
1.      Bantuan dalam memilih bidang studi. Banyak mahasiswa baru yang akan mengubah jurusannya paling sedikit satu kali selama mereka di perguruan tinggi. Fenomena ini mungkin berlangsung pada sekitar dua tahun pertama di perguruan tinggi. Setiap perubahan disiplin akademik membawa serta perubahan yang sepadan dalam perencanaan karier di mana bimbingan karier harus memberikan respons.
2.      Bantuan dalam penilaian diri dan analisis diri. Pilihan-pilihan karier yang sesuai tidak dapat dilakukan oleh individu-individu yang tidak memiliki ide yang cukup jelas mengenai siapa dirinya, kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangannya, apa nilai yang dijunjung tinggi, motivasi-motivasinya, ciri-ciri psikologisnya, dan minat-minatnya. Singkatnya, mahasiswa-mahasiswa harus dibantu menemukan baik identitas pribadi maupun identitas vokasional yang kemudian dapat dihubungkan dengan dunia kerja.
3.      Bantuan dalam memahami dunia kerja. Di tingkat perguruan tinggi, ada kemungkinan bahwa kebanyakan mahasiswa akan memiliki pemahaman yang luas dan mendalam tentang struktur okupasional. Akan tetapi, banyak mahasiswa mungkin perlu bantuan dalam eksplorasi segmen-segmen khusus dari struktur itu yang secara pribadi relavan (misalnya, pekerjaan apa yang berhubungan dengan jurusan tertentu? Bagaimana harapan pekerjaan dalam suatu bidang okupasional khusus? Kesempatan-kesempatan apa yang tersedia dalam bidang yang dipilih?)
4.      Bantuan dalam pengambilan keputusan. Informasi, baik tentang diri ataupun tentang sesuatu di luar diri, yaitu pilihan-pilihan karier, hanya sedikit manfaatnya jika tidak diproses secara efektif. Informasi seperti itu harus diterjemahkan ke dalam tujuan-tujuan karier jangka pendek dan jangka panjang serta kemudian dites dalam realitas. Secara ideal, rencana pribadi haruslah konsisten dengan informasi yang telah dikumpulkan.
5.      Bantuan memasuki dunia kerja. Penempatan, dalam arti luas lebih dari sekedar upaya menghubungkan mahasiswa-mahasiswa yang mencari pekerjaan dengan pekerjaan-pekerjaan yang tersedia. Penempatan terdiri dari serangkaian layanan yang dimaksudkan untuk membantu mahasiswa-mahasiswa memasuki dunia kerja.
6.      Bantuan dalam menemukan kebutuhan-kebutuhan unik berbagai sub populasi. Diantara sub-sub populasi ini adalah minoritas-minoritas yang kelihatan (misalnya Cina, India, Arab dan sebagainya), dan minoritas-minoritas yang kurang jelas kelihatannya (misalnya mahasiswa-mahasiswa homoseksual dan lesbian), mahasiswa-mahasiswa asing, mahasiswa-mahasiswa pria dan wanita, mahasiswa-mahasiswa dari jurusan-jurusan yang mungkin memerlukan layanan-layanan yang berbeda dari yang lainnya, dan sebagainya. Kampus-kampus hendaknya menyediakan program-program yang dimaksudkan untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan bimbingan karier bagi kelompok-kelompok seperti itu, sejauh kebutuhan-kebutuhan ini menyimpang dari yang biasanya.
Pada dasarnya, perguruan tinggi telah menggunakan empat pendekatan utama dalam pemberian bimbingan karier: (1) mata-mata kuliah, lokakarya-lokakaryanya, dan seminar-seminar yang memberikan pengalaman-pengalaman kelompok berstruktur dalam perencanaan karier; (2) aktivitas-aktivitas bimbingan kelompok yang biasanya kurang berstruktur dan menekankan pada aspek-aspek yang lebih efektif dari perkembangan manusia dan karier; (3) kesempatan-kesempatan konseling individual yang beraksentuasi pada berbagai orientasi teoretis terhadap karier; dan (4) program-program penempatan yang merupakan puncak dari proses perencanaan dan pengambilan keputusan karier.
Praktek pelaksanaan konseling di perguruan tinggi tidak banyak berbeda daripada pelaksanaannya di sekolah menengah. Penekanan pada kondisi akademik dan kemandirian mewarnai pelaksanaan konseling. Sumber alih tangan klien lebih banyak ditekankan pada keadaan mahasiswa sendiri. Oleh karena itu permasyarakatan pelayanan bimbingan dan konseling dan peranan konselor lebih perlu diperluas melalui berbagai media yang ada di kampus. Unit pelayanan bimbingan dan konseling yang ada perlu bekerja sama dengan unit-unit yang langsung berhubungan dengan mahasiswa. Pertama, untuk ikut serta memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling dan kedua untuk menjadi “agen alih tangan”.

DAFTAR PUSTAKA
Prayitno, Erman Amti. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Cet. 2. Jakarta: Rineka Cipta.
Manrihu, Mohammad Thayeb. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling Karier. Cet. 1. Jakarta: Bumi aksara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar