Rabu, 08 Oktober 2014

Konseling di Sekolah Menengah




Sasaran bimbingan dan konseling di sekolah menengah, sama seperti di sekolah pada tiap jenjang, yaitu adalah tiap-tiap pribadi siswa secara perorangan, dalam arti mengembangkan apa yang ada pada diri tiap-tiap individu (siswa) secara optimal agar masing-masing individu dapat sebesar-besarnya berguna bagi dirinya sendiri, lingkungannya, dan masyarakat pada umumnya. Sasaran pengembangan pribadi tiap-tiap siswa melalui pelayanan bimbingan dan konseling melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut yaitu pengungkapan, pengenalan dan penerimaan diri. Namun setiap individu (siswa) pasti memiliki kompleksitas masalahnya berbeda satu dengan yang lain. Jika dibandingkan antara siswa menengah dengan siswa SD jelaslah sangat berbeda jauh. Siswa menengah memiliki banyak gejolak yang menandai atau menjadi ciri khas pada tahap perkembangan remaja itu. Namun dalam hal ini, tidak semua individu (siswa) menengah mengenal atau mengetahui masalah dirinya. Oleh sebab itu, individu tersebut harus dibantu untuk mengenali masalahnya. Selanjutnya yang mesti diungkap dari individu adalah potensi-potensi diri dan masalah yang dihadapinya, sedangkan yang diungkap adalah semua siswa yang menjadi sasaran pelayanan bimbingan dan konseling. Cara mengungkap potensi-potensi dan masalh individu bisa dilakukan melalui konseling atau cara yang lainnya seperti tes, observasi, angket, wawancara, sosiometri, catatan pribadi, kunjungan rumah, dan lain-lain.
Terdapat beberapa bahaya pada masa remaja seperti bahaya fisik dan bahaya psikologis. Bahaya fisik meliputi kematian akibat penyakit, bunuh diri atau percobaan bunuh diri, dan cacat fisik. Bahaya psikologis dapat terjadi akibat pola perilaku sosial, perilaku seksual, perilaku moral dan hubungan keluarga. Konselor di sekolah menengah dituntut untuk memahami berbagai gejolak yang secara potensial sering muncul itu dan cara-cara penanganannya. Bentuk-bentuk permasalahan khusus seperti masalah hubungan muda-mudi, masalah perkembangan seksual, masalah sosial dan ekonomi, serta masalah masa depan banyak muncul di antara para remaja itu.
Setiap individu (siswa) memiliki tingkat masalah yang berbeda satu sama lain, yaitu siswa mengalami masalah-masalah yang berkenaan dengan : Pertama, perkembangan individu. Kedua perbedaan inividu dalam hal kecerdasan, kecakapan, hasil belajar, bakat, sikap, kebiasaan, pengetahuan, kepribadian, cita-cita, kebutuhan, minat, pola-pola dan tempo perkembangan, ciri-ciri jasmaniah, dan latar belakang lingkungan. Ketiga, kebutuhan individu dalam hal memperoleh kasih saying, memperoleh harga diri, memperoleh penghargaan yang sama, ingin dikenal, memperoleh prestasi dan posisi, untuk dibutuhkan orang lain, merasa bagian dari kelompok, rasa aman dan perlindungan diri, serta untuk memperoleh kemerdekaan diri. Keempat, penyesuaian diri, dan kelainan tingkah laku. Kelima, masalah belajar.
Pendekatan dan teknik-teknik konseling dalam berbagai bentuknya dapat dipakai terhadap para pemuda yang sudah lebih berkembang daripada anak-anak SD itu. Aplikasi pendekatan dan teknik konseling serta penyesuaiannya banyak tergantung pada keunikan klien dan masalahnya, serta spesialisasi keahlian konselor sendiri. Tentang sumber alih tangan klien, sama dengan yang telah diuraikan terlebih dahulu, yaitu sangat mengandalkan pada peranan guru, kepala sekolah, siswa dan konselor sendiri,serta orang tua. kehadiran konselor langsung di hadapan para siswa(di muka kelas dan pada kesempatan-kesempatan lain), disertai dengan informasi yang tepat dan mantap tentang fungsi konselor dan pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, akan sangat membantu peningkatan pemanfaatan layanan konseling oleh para siswa.
Tujuan-tujuan bimbingan dan konseling, selain memperkuat tujuan-tujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada umumnya. Hal ini dapat dimengerti karena berbagai program bimbingan dan konseling yaitu meliputi aspek-aspek tugas perkembangan individu, khususnya yang menyangkut kematangan pendidikan dan karier, emosional, dan kematangan social, semuanya diperuntukkan bagi peserta baik pada jenjang pendidikan dasar (SD), pendidikan menengah pertama (SMP), dan pendidikan menengah atas (SMA).

DAFTAR PUSTAKA
Prayitno, Erman Amti. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Cet. 2. Jakarta: Rineka Cipta.
Tohirin. 2011. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Cet. 4. Jakarta: Rajawali Pers.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Ed. 5. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar