Sasaran
bimbingan dan konseling di sekolah menengah, sama seperti di sekolah pada tiap
jenjang, yaitu adalah tiap-tiap pribadi siswa secara perorangan, dalam arti
mengembangkan apa yang ada pada diri tiap-tiap individu (siswa) secara optimal
agar masing-masing individu dapat sebesar-besarnya berguna bagi dirinya
sendiri, lingkungannya, dan masyarakat pada umumnya. Sasaran pengembangan
pribadi tiap-tiap siswa melalui pelayanan bimbingan dan konseling melalui
beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut yaitu pengungkapan, pengenalan dan
penerimaan diri. Namun setiap individu (siswa) pasti memiliki kompleksitas
masalahnya berbeda satu dengan yang lain. Jika dibandingkan antara siswa
menengah dengan siswa SD jelaslah sangat berbeda jauh. Siswa menengah memiliki
banyak gejolak yang menandai atau menjadi ciri khas pada tahap perkembangan
remaja itu. Namun dalam hal ini, tidak semua individu (siswa) menengah mengenal
atau mengetahui masalah dirinya. Oleh sebab itu, individu tersebut harus
dibantu untuk mengenali masalahnya. Selanjutnya yang mesti diungkap dari
individu adalah potensi-potensi diri dan masalah yang dihadapinya, sedangkan
yang diungkap adalah semua siswa yang menjadi sasaran pelayanan bimbingan dan
konseling. Cara mengungkap potensi-potensi dan masalh individu bisa dilakukan
melalui konseling atau cara yang lainnya seperti tes, observasi, angket,
wawancara, sosiometri, catatan pribadi, kunjungan rumah, dan lain-lain.
Terdapat
beberapa bahaya pada masa remaja seperti bahaya fisik dan bahaya psikologis.
Bahaya fisik meliputi kematian akibat penyakit, bunuh diri atau percobaan bunuh
diri, dan cacat fisik. Bahaya psikologis dapat terjadi akibat pola perilaku
sosial, perilaku seksual, perilaku moral dan hubungan keluarga. Konselor di
sekolah menengah dituntut untuk memahami berbagai gejolak yang secara potensial
sering muncul itu dan cara-cara penanganannya. Bentuk-bentuk permasalahan
khusus seperti masalah hubungan muda-mudi, masalah perkembangan seksual,
masalah sosial dan ekonomi, serta masalah masa depan banyak muncul di antara
para remaja itu.
Setiap
individu (siswa) memiliki tingkat masalah yang berbeda satu sama lain, yaitu
siswa mengalami masalah-masalah yang berkenaan dengan : Pertama, perkembangan
individu. Kedua perbedaan inividu dalam hal kecerdasan, kecakapan, hasil
belajar, bakat, sikap, kebiasaan, pengetahuan, kepribadian, cita-cita,
kebutuhan, minat, pola-pola dan tempo perkembangan, ciri-ciri jasmaniah, dan
latar belakang lingkungan. Ketiga, kebutuhan individu dalam hal memperoleh
kasih saying, memperoleh harga diri, memperoleh penghargaan yang sama, ingin
dikenal, memperoleh prestasi dan posisi, untuk dibutuhkan orang lain, merasa
bagian dari kelompok, rasa aman dan perlindungan diri, serta untuk memperoleh
kemerdekaan diri. Keempat, penyesuaian diri, dan kelainan tingkah laku. Kelima,
masalah belajar.
Pendekatan
dan teknik-teknik konseling dalam berbagai bentuknya dapat dipakai terhadap
para pemuda yang sudah lebih berkembang daripada anak-anak SD itu. Aplikasi pendekatan
dan teknik konseling serta penyesuaiannya banyak tergantung pada keunikan klien
dan masalahnya, serta spesialisasi keahlian konselor sendiri. Tentang sumber
alih tangan klien, sama dengan yang telah diuraikan terlebih dahulu, yaitu
sangat mengandalkan pada peranan guru, kepala sekolah, siswa dan konselor
sendiri,serta orang tua. kehadiran konselor langsung di hadapan para siswa(di
muka kelas dan pada kesempatan-kesempatan lain), disertai dengan informasi yang
tepat dan mantap tentang fungsi konselor dan pelayanan bimbingan dan konseling
pada umumnya, akan sangat membantu peningkatan pemanfaatan layanan konseling
oleh para siswa.
Tujuan-tujuan
bimbingan dan konseling, selain memperkuat tujuan-tujuan pendidikan, juga
menunjang proses pendidikan pada umumnya. Hal ini dapat dimengerti karena
berbagai program bimbingan dan konseling yaitu meliputi aspek-aspek tugas
perkembangan individu, khususnya yang menyangkut kematangan pendidikan dan
karier, emosional, dan kematangan social, semuanya diperuntukkan bagi peserta
baik pada jenjang pendidikan dasar (SD), pendidikan menengah pertama (SMP), dan
pendidikan menengah atas (SMA).
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno,
Erman Amti. 2009. Dasar-dasar Bimbingan
dan Konseling. Cet. 2. Jakarta: Rineka Cipta.
Tohirin.
2011. Bimbingan dan Konseling di Sekolah
dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Cet. 4. Jakarta: Rajawali Pers.
Hurlock,
Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan.
Ed. 5. Jakarta: Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar